Selasa, 15 November 2011

Mengenal Kwashiorkor


Definisi

Kata “Kwashiorkor” berasal dari Ghana-afrika yang berarti “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”. Kwashiorkor didefinisikan sebagai bentuk malnutrisi (kekurangan zat gizi) berupa protein yang disebabkan oleh defisiensi protein yang berat (Soetjiningsih 1995). Menurut Blake 2010, Kwashiorkor adalah kondisi serius malnutrisi protein yang disebabkan oleh defisiensi berat asupan protein.

Etiologi

Penyebab terjadinya Kwashiorkor yaitu asupan atau intake protein yang tidak adekuat dan belangsung lama atau kronis. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain pola makan, sosial, ekonomi, dan infeksi serta penyakit lainnya. Tidak semua makanan mengandung protein/asam amino yang memadai. Keadaan sosial dan politik yang tidak stabil maupun adanya budaya pantangan terhadap pangan tertentu menjadi penyebab kurangnya asupan protein sehingga terjadi Kwashiorkor. Sama halnya dengan kemiskinan yang berakibat pada tidak tercukupinya asupan protein. Selain diakibatkan oleh pengaruh negatif dari faktor sosio-ekonomi-budaya, keseimbangan nitrogen yang negatif pada penderita Kwashiorkor dapat pula disebabkan oleh diare kronis, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih (sindrom nefrotik), luka bakar, dan penyakit hati. Infeksi dan KEP juga diketahui memiliki hubungan yang sinergis. Infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan sebaliknya, KEP dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga menjadi rentan terhadap infeksi.

Patofisiologi

Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot, makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein, sehingga transport lemak dari hati ke depot terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati (Nelson 2007).

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang ada pada anak yang mengalami Kwarshirkor adalah sebagai berikut: berat badan tidak bertambah, pertumbuhan linier terhenti, edema general (muka sembab, punggung kaki dan perut membuncit), diare, dermatitis dan perubahan pigmen kulit, rambut kemerahan dan mudah dicabut, massa otot menurun, perubahan mental (lethargia, iritabilitas, dan apatis), perlemakan di hati, gangguan fungsi ginjal, dan anemia. Pada tahap akhir, terjadi shock, koma bahkan kematian (Soetjiningsih 1995).

Pengobatan atau Perawatan

Pengobatan atupun perawatan terjadinya Kwashiorkor mengacu pada tatalaksana (10 langkah) KEP berat, yaitu: atasi/cegah hipoglikemia, hipotermia, dan dehidrasi; koreksi gangguan keseimbangan elektrolit; obati/cegah infeksi; koreksi defisiensi mikronutrien; mulai pemberian makanan; fasilitasi tumbuh kejar; lakukan stimulasi dan dukungan mental; serta siapkan/rencanakan tindak lanjut. Penatalaksanaan dilakukan segera setiap terjadi masalah akut seperti diare berat.

Anjuran Gizi

Diet yang diberikan mengandung protein dalam jumlah yang cukup dan memiliki nilai mutu protein yang bagus. Selain tinggi protein, diet yang diberikan juga tinggi kalori, vitamin, dan mineral. Menurut Arisman (2004), pemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70–100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi. Pemberian CRO dimulai dengan 5 cc/kg BB dan diberian selanjutnya dilakukan setiap 30 menit selama 2 jam. CRO tersebut harus dihabiskan dalam 12 jam. ASI sebaiknya tetap diberikan ketika pemberian CRO dilakukan. Makanan yang diberikan berupa makanan cair yang mengandung 75–100 kkal/cc, yang masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.

Mengenal Beberapa Jenis Gula dan Manfaatnya bagi Tubuh


Gula pasir, gula batu, dan gula merah adalah merupakan jenis gula yang sering dikonsumsi oleh banyak orang. Walaupun sama-sama manis, tetapi ketiga jenis gula tersebut dapat memberikan dampak yang berbeda untuk kesehatan tubuh dan organ pankreas kita. Dalam konsep GI (Glicemic Index), yang menjadi titik berat dalam pemilihan pangan terutama bagi penderita diabetes adalah seberapa besar kemampuan pangan tersebut dalam menaikkan kadar gula darah. Hal ini hanya melibatkan penyerapan karbohidrat yang terkandung dalam pangan. Namun, kali ini kita akan menelusuri lebih jauh.


Apa itu indeks lelah pankreas???

Indeks lelah merupakan bilangan yang menunjukkan seberapa keras kerja pankreas dalam mengubah gula darah menjadi energi. Karbohidrat dalam makanan yang kita makan, kemudian akan diserap oleh tubuh menjadi gula darah. Selanjutnya, gula darah diubah menjadi energi dengan bantuan insulin. Organ yang berperan dalam hal ini adalah pankreas. Pankras dan tubuh akan merasa lelah jika Indeks Lelahnya bernilai ≥ 3. Nah, bagaimanakah efek beberapa jenis gula terhadap Indeks Lelah Pankreas atau tubuh?

A. Gula Pasir

Gula pasir merupakan makanan yang paling sering digunakan dalam makanan dan minuman sehari-hari. Tetapi ternyata gula pasir mempunyai dampak yang kurang baik bagi kesehatan pankreas dan tubuh. Gula pasir merupakan karbohidrat sederhana yang sulit dicerna dan diubah menjadi energi. Untuk mengubah gula pasir menjadi gula darah, tubuh hanya memerlukan waktu 3 menit. Tetapi untuk mengubah gula darah menjadi energi yang dapat disimpan dalam otot, pankreas memerlukan waktu kira-kira 140 menit. Selain itu, Indeks Lelah pankreas mencapai nilai +5, sehingga mengolah gula pasir menjadi energi merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan bagi pankreas.

Pankreas yang normal hanya mampu mengubah 1/2 sendok makan gula pasir menjadi energi setiap hari. Berat 1/2 sendok makan gula pasir kira-kira 5 gram. Bila kita mengkonsumsi lebih dari 1/2 sendok gula, maka sisanya akan menjadi gula darah dan lemak tubuh. Akibatnya adalah orang menjadi bertambah gemuk, dan lama-kelamaan akan menderita diabetes. Dengan demikian, gula pasir merupakan makanan yang tidak sehat.

B. Gula Merah

Gula merah juga mempunyai efek yang berbeda dengan gula pasir. Untuk mengkonversi gula merah menjadi gula darah di dalam tubuh, dibutuhkan waktu yang relatif sama, yaitu 3 menit. Selanjutnya, untuk mengubah gula darah menjadi energi, juga dibutuhkan waktu yang singkat, yaitu 3 menit juga.

Indeks Lelah pankreas dalam menghasilkan insulin untuk mengubah gula darah menjadi energi adalah +0,00005. Ternyata lebih rendah kira-kira 10 x dari gula batu. Ini berarti gula merah masih merupakan karbohidrat kompleks yang sehat. Dengan demikian, gula merah termasuk dalam makanan sehat. Pankreas mampu mengkonversi 9 sendok makan gula merah menjadi energi setiap hari atau kira-kira 90 gram.

C. Gula Batu

Awalnya saya bertanya-tanya, mengapa kebanyakan tetangga saya yang terkena diabetes disarankan oleh dokter untuk mengganti gula mereka dengan gula batu. Ternyata, berikut ini adalah sedikit penjelasannya…

Bagi pankreas dan tubuh, gula batu mempunyai efek yang berbeda dengan gula pasir. Untuk mengkonversi gula batu menjadi gula darah, membutuhkan waktu yang sama, yaitu 3 menit. Untuk mengubah gula darah menjadi energi, juga dibutuhkan waktu 3 menit.

Indeks Lelah pankreas juga jauh lebih rendah, yaitu +0,0005. Ini berarti lebih rendah 10.000 x dari gula pasir. Pankreas hampir tidak merasa lelah mengkonversi gula batu menjadi energi. Ini berarti gula batu masih merupakan karbohidrat kompleks yang sehat. Dengan demikian, gula batu merupakan makanan yang jauh lebih sehat dari gula pasir. Pankreas yang normal mampu mengkonversi 6 sendok makan gula batu menjadi energi setiap hari atau kira-kira 60 gram.

Sekian, semoga bermanfaat... ^^

Sumber:

Senin, 31 Oktober 2011

Apa sih kalsium itu?


Pertama kali saya mendengar istilah kalsium adalah dari iklan susu di TV saat masih kelas 5 SD.
Berbicara tentang kalsium, yang langsung terlintas di benak saya adalah tulang. Tapi, sebenarnya apa saja sih manfaat kalsium itu? dan berapa banyak yang kita butuhkan?
Mari kita lihat,, cekidot.. :D

Kalsium

Tubuh kita mengandung lebih banyak kalsium dibandingkan mineral lain. Diperkirakan 2% dari berat badan orang dewasa terdiri dari kalsium (Winarno 2002). Sebesar 99% dari jumlah tersebut berupa jaringan keras yaitu tulang dan gigi. Kalsium tulang berada dalam kondisi seimbang dengan kalsium plasma pada konsentrasi kurang lebih 2.25-2.60 mmol/l atau 9-10.4 mg/100 ml (Almatsier 2002).

Kalsium berfungsi sebagai katalisator rekasi biologis seperti absorpsi vitamin B12, tindakan enzim pemecah lemak, lipase pankreas, ekskresi insulin oleh pankreas, dan, pembentukan asetilkolin. Asetilkolin adalah bahan yang diperlukan dalam memindahkan (transmisi) suatu rangsangan dari suatu serabut saraf ke serabut saraf lain (Almatsier 2002). Kalsium berperan dalam interaksi protein di dalam otot, yaitu aktin dan miosin saat otot berkontraksi. Bila kalsium darah kurang dari normal, otot tidak bisa mengendur sesudah kontraksi, sehingga tubuh akan kaku dan dapat mengalami kejang (Almatsier 2002).

Kalsium memiliki beberapa fungsi dalam tubuh, diantaranya adalah sebagai pembentuk tulang dan gigi, mengatur pembekuan darah, sebagai katalisator reaksi biologis, dan untuk kontraksi otot (Sherrington & Gaman 1992). Kalsium di tulang mempunyai dua fungsi yaitu sebagai bagian integral dari struktur tulang dan sebagai tempat menyimpan asupan kalsium darah. Fungsi mineral sebagai pengatur pembekuan darah yaitu pada saat terjadi luka, ion kalsium di dalam darah akan merangsang pembekuan fosfolipid tromboplastin dari platelet darah yang terluka. Tromboplastin ini mengkatalisis perubahan protrombin menjadi trombin yang kemudian membantu perubahan fibrinogen menjadi fibrin yang merupakan gumpalan darah (Almatsier 2002).

Metabolisme kalsium dimulai dari penyerapan kalsium di usus. Saat tubuh sangat membutuhkan kalsium dan berada pada kondisi optimal, 30-50% kalsium yang dikonsumsi dapat diabsorpsi tubuh. Pada masa pertumbuhan, penyerapan dapat mencapai 75% dari makanan berkalsium. Sebelum penyerapan, natrium, vitamin D, dan satu atau dua protein pengikat kalsium (Calbindin) harus tersedia (Guthrie dalam Mulia 2004). Ada dua jalur transportasi kalsium di sepanjang usus. Pertama cara aktif, mudah jenuh, dan dengan proses transeluler yang terjadi terutama pada duodenum dan proksimal jejunum. Kedua cara pasif, tidak mudah jenuh, jalur paraseluler yang terjadi di sepanjang usus halus (Allen & Wood dalam Mulia 2004). Kalsium yang telah diserap kemudian menjadi kalsium plasma atau disimpan di tulang. Kasium plasma dalam darah difiltrasi oleh ginjal dan kelebihan kalsium akan diekskresikan melalui urin (Kumar 1995).

Bioavailabilitas atau ketersediaan biologis adalah ukuran kuantitatif dari penggunaan nutrisi pada kondisi tertentu untuk menunjang struktur normal organnisme serta proses-proses fisiknya (Fox 1988 dalam Mulia 2004). Nutrisi bahan pangan harus dapat diserap terlebih dahulu agar dapat digunakan oleh tubuh. Penyerapan kalsium dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Pertama faktor pendukung, yaitu vitamin D dan protein. Kedua faktor penghambat, yaitu serat makanan dan zat organik. Adanya zat organik seperti asam oksalat dan asam fitat akan mengikat kalsium dan membentuk garam yang tidak larut (Winarno 2002).

Selain itu terdapat faktor lain yang juga mempengaruhi penyerapan kalsium, yaitu fosfor (P), pH bahan pangan, asupan kalsium, dan aktivitas fisik. Sediaoetama (2002) menyebutkan bahwa absorpsi kalsium (Ca) yang baik membutuhkan perbandingan Ca:P dalam hidangan sebesar 1:1 sampai dengan 1:3. Rasio yang lebih dari itu akan menghambat penyerapan Ca, sehingga menimbulkan defisiensi Ca. Kebutuhan Ca berbeda pada setiap orang.

Kebutuhan kalsium dalam tubuh dipengaruhi oleh keseimbangan kalsium (Winarno 2002). Penyerapan kalsium meningkat saat asupan kalsium rendah. Semakin rendah persediaan kalsium dalam tubuh, maka semakin efisien absorpsi kalsium. Peningkatan kebutuhan terjadi pada masa pertumbuhan, kehamilan, menyusui, defisiensi kalsium, dan aktivitas fisik yang meningkatkan densitas tulang (Almatsier 2002). Berikut ini adalah daftar kebutuhan Ca menurut AKG.

Tabel 1 Daftar kebutuhan kalsium menurut AKG

No.

Golongan Umur

Kebutuhan Ca (mg)/hari

1

1-9

500

2

10-15

700

16-19

600

3

Pria

20-45

500

45-59

800

≥60

500

Wanita

20-45

500

45-59

600

≥60

500

4

Hamil

+400

Menyusui

+400

Kelebihan kalsium akan disimpan di tulang atau dikeluarkan melalui urin, sedangkan kekurangan kalsium dapat menyebabkan rickets pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa (Sherrington & Gaman 1992). Pada osteomalasia, tulang menjadi lunak karena matriks kekurangan kalsium. Selain itu, keseimbangan kalsium yang negatif akan menyebabkan osteoporosis atau masa tulang yang menurun (Winarno 2002).


DAFTAR PUSTAKA

Allen LH, JR Wood. 1994. Calcium and phosporus. Di dalam: Shils EM, Olson JA, Shike M, editor. Modern Nutrition in Health and Disesase. Ed ke-8. USA: Lea & Febringer.

Almatsier S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Fox MRS. 1988. Nutrient Interactions. New York; Marcel Dekker Inc.

Guthrie HA. 1975. Introductory Nutrition. USA: Mosby Company.

Kumar R. 2005. Calcium transport in ephitelial cells of the intestinal and kidney. J Cell Biochem 57: 392-398.

Mulia. 2004. Kajian potensi limbah tulang ikan patin (Pangasius sp) sebagai alternatif sumber kalsium dalam produk mi kering [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Sherrington KB, Gaman PM. 1992. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Ed ke-2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Winarno FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.