
Definisi
Kata “Kwashiorkor” berasal dari Ghana-afrika yang berarti “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”. Kwashiorkor didefinisikan sebagai bentuk malnutrisi (kekurangan zat gizi) berupa protein yang disebabkan oleh defisiensi protein yang berat (Soetjiningsih 1995). Menurut Blake 2010, Kwashiorkor adalah kondisi serius malnutrisi protein yang disebabkan oleh defisiensi berat asupan protein.
Etiologi
Penyebab terjadinya Kwashiorkor yaitu asupan atau intake protein yang tidak adekuat dan belangsung lama atau kronis. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain pola makan, sosial, ekonomi, dan infeksi serta penyakit lainnya. Tidak semua makanan mengandung protein/asam amino yang memadai. Keadaan sosial dan politik yang tidak stabil maupun adanya budaya pantangan terhadap pangan tertentu menjadi penyebab kurangnya asupan protein sehingga terjadi Kwashiorkor. Sama halnya dengan kemiskinan yang berakibat pada tidak tercukupinya asupan protein. Selain diakibatkan oleh pengaruh negatif dari faktor sosio-ekonomi-budaya, keseimbangan nitrogen yang negatif pada penderita Kwashiorkor dapat pula disebabkan oleh diare kronis, malabsorpsi protein, hilangnya protein melalui air kemih (sindrom nefrotik), luka bakar, dan penyakit hati. Infeksi dan KEP juga diketahui memiliki hubungan yang sinergis. Infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan sebaliknya, KEP dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga menjadi rentan terhadap infeksi.
Patofisiologi
Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot, makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein, sehingga transport lemak dari hati ke depot terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati (Nelson 2007).
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang ada pada anak yang mengalami Kwarshirkor adalah sebagai berikut: berat badan tidak bertambah, pertumbuhan linier terhenti, edema general (muka sembab, punggung kaki dan perut membuncit), diare, dermatitis dan perubahan pigmen kulit, rambut kemerahan dan mudah dicabut, massa otot menurun, perubahan mental (lethargia, iritabilitas, dan apatis), perlemakan di hati, gangguan fungsi ginjal, dan anemia. Pada tahap akhir, terjadi shock, koma bahkan kematian (Soetjiningsih 1995).
Pengobatan atau Perawatan
Pengobatan atupun perawatan terjadinya Kwashiorkor mengacu pada tatalaksana (10 langkah) KEP berat, yaitu: atasi/cegah hipoglikemia, hipotermia, dan dehidrasi; koreksi gangguan keseimbangan elektrolit; obati/cegah infeksi; koreksi defisiensi mikronutrien; mulai pemberian makanan; fasilitasi tumbuh kejar; lakukan stimulasi dan dukungan mental; serta siapkan/rencanakan tindak lanjut. Penatalaksanaan dilakukan segera setiap terjadi masalah akut seperti diare berat.
Anjuran Gizi
Diet yang diberikan mengandung protein dalam jumlah yang cukup dan memiliki nilai mutu protein yang bagus. Selain tinggi protein, diet yang diberikan juga tinggi kalori, vitamin, dan mineral. Menurut Arisman (2004), pemberian CRO (Cairan Rehidrasi Oral) sebanyak 70–100 cc/kg BB biasanya cukup untuk mengoreksi dehidrasi. Pemberian CRO dimulai dengan 5 cc/kg BB dan diberian selanjutnya dilakukan setiap 30 menit selama 2 jam. CRO tersebut harus dihabiskan dalam 12 jam. ASI sebaiknya tetap diberikan ketika pemberian CRO dilakukan. Makanan yang diberikan berupa makanan cair yang mengandung 75–100 kkal/cc, yang masing-masing disebut sebagai F-75 dan F-100.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar